Saat ini perkembangan bisnis kuliner sangat tinggi dan dapat diterima oleh banyak masyarakat Indonesia dari segala umur, pekerjaan, maupun tingkat kesejahteraan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), dari kwartal pertama 2018 hingga kwartal pertama 2023, industry makanan dan munuman selalu berada di 5 besar dalam memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi (PDB) Indonesia. Industry makanan dan minuman selalu memberikan kontribusi pada perekonomian karena adanya perubahan gaya hidup dari Sebagian besar masyarakat Indonesia, terkhususnya daerah perkotaan (Allo dkk, 2018; Arifin dkk, 2019). Daerah perkotaan memiliki ragam penduduk sehingga memiliki perubahan dan perbedaan gaya hidup (Belanche dkk, 2021; Mouratidis, 2021 ), terutama pada cita rasa makanan yang lebih memilih makanan cepat saji (Isa dkk, 2022; Briawan dkk, 2023). Makanan cepat saji menjadi pilihan masyarakat perkotaan karena waktu yang padat dan kesibukan bekerja ataupun aktivitas lainnya (Ngozika dan Ifeany, 2018). Banyak makanan fast food yang dapat mempengaruhi Kesehatan (Laksono dkk, 2022) dan ada juga makanan cepat saji yang berguna bagi Kesehatan (Fulkerson, 2018) terutama terdapat label halal pada makanan maupun pada penyedianya (Arinilhaq, 2017; Yousaf dan Xiucheng, 2018).\r\nMinat masyarakat yang begitu besar pada fast food, membuat restoran cepat saji menggunakan media social sebagai sarana pemasaran (Gascon dkk, 2017), salah satunya dengan menggunakan raw unfiltered marketing (Denny and Leinberger, 2020) seperti yang digunakan pada produk Traffic Bun. Menurut Denny and Leinberger (2020), strategi pemasaran raw unfiltered marketing dapat menjadi pedoman bagi seorang pengusaha yang sangat tertarik dengan interaksi dari pelanggan melalui media social yang saat ini semakin berkembang pesat dan semakin banyak penggunanya. Dengan memainkan peran komunikasi pada konsumen, tentu saja hal yang harus dilakukan oleh Traffic Bun adalah bagaimana membangun kepercayaan produk pada konsumen yang semakin selektif (Bachnik dan Nowacki, 2018). Salah satu cara adalah bekerjasama dengan blogger atau influencer yang sengaja mengulas produk yang dipasarkan (Rudeloff dan Damms, 2023).\r\nMenurut Haenlein dkk (2020), platform media sosial dapat dijadikan sarana pemasaran terhadap produk-produk tertentu. Dalam penelitiannya, Haenlein dkk (2020) menyoroti tiga hal penting terkait dengan sarana media pemasaran, yaitu influencer harus dapat memahami siapa pengikut atau penontonnya dan bagaimana karakter dari pengikutnya, influencer harus mampu mengetahui berapa banyak pengguna platform media sosial yang digunakan oleh masyarakat, serta bagaimana konten yang harus dibuat jika sudah mengenali pengikut atau penontonnya. Berdasarkan kondisi tersebut, influencer yang ingin membuka usahanya harus memperhatikan beberapa hal, yaitu memahami bahwa setiap platform media sosial memiliki budaya dan pengunaan bahasanya sendiri (Voorveld dkk, 2018; Shahbaznezhad dkk, 2021), menyadari bahwa pengguna media sosial tidak hanya peka terhadap gambar saja tetapi juga tulisan maupun ucapan yang disampaikan (Abbas dkk, 2019; Spence, 2020), dan berikanlah kesempatan kepada konsumen untuk berkomentar mengenai produk yang kita pasarkan (Umami dan Darma, 2021; Hoffman dkk, 2022). Ketiga hal tersebut merupakan inti dari bagaimana perusahaan itu dapat bertahan dari terpaan saingan yang sangat hebat.\r\nPerlu diingat juga bahwa influencer bukan hanya sekedar memberikan postingan saja tetapi juga diperlukan strategi paparan kepada audience. Menurut Farivar dkk (2023), komunikasi sangat direkomendasikan seperti yang ada pada platform instagram. Pada platform media sosial instagram, menjadi salah satu media sosial yang paling efektif dan efisien dimana postingan yang dikeluarkan oleh influencer sedikit bahkan tidak bisa diubah sama sekali oleh pengguna lainnya (Appel dkk., 2020;Gross & von Wangenheim, 2022). Kondisi tersebut harus dijadikan peluang bagi perusahaan terutama dalam media komunikasi lainnya seperti papan reklame ataupun iklan cetak. Dengan adanya tambahan komunikasi berupa media cetak, tentu saja akan menjadi topik pembicaraan dikalangan konsumen karena adanya rasa penasaran. Karena sudah menjadi viral dan bahan perbincangan yang paling banyak dibicarakan di tengah masyarakat, hal yang terpenting adalah kepercayaan dari iklan-iklan yang sudah ditampilkan.\r\nBlogger atau influencer tersebut akan membangun sebuah kepercayaan pada pelanggannya dengan cerita yang sesuai dengan kenyataan (Lou & Yuan, 2019; Leung dkk, 2022). Kepercayaam Influencer dapat dimanfaatkan untuk menjadikannya sebuah trend agar dapat meningkatkan brand awareness maupun target penjualan melalui review atau ulasan dari pengikutnya atau pelanggannya ((Hermanda dkk, 2019; Tjandrawibawa, 2020). Jika ulasan tersebut baik maka influencer dan produk yang ditawarkan akan mendapatkan respon yang positif (Dwidienawati dkk, 2020). Akan tetapi, jika reviewer tidak sesuai dengan cerita influencer maka akan berdampak pada penurunan brand awareness produk tersebut (Matin dkk, 2022). Melihat fenomena tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut mengenai bagaimana metode raw unfiltered marketing dapat memberikan dampak pada peningkatan brand awareness dari produk Traffic Bun
Dipublikasikan pada 22 May 2026 pada 01:17